Penistaan Agama, Aksi Super Damai, dan Makar : Pelajaran Apa yang Bisa Kita Ambil?

Menengok sejarah negara adidaya Amerika Serikat yang menggunakan angka 911 dari kejadian di tanggal itu, sepertinya Indonesia juga tak mau kalah. Angka 411 dijadikan sebagai tandingan. Angka yang berasal dari 4 November dimana aksi damai jilid pertama dilaksanakan. Aksi demo besar-besaran yang mengingatkan kita akan kelamnya Indonesia di masa Mei 1998. Aksi yang penuh kekerasan, penuh fitnah, dan penuh tuntutan.

Tak ada asap kalau tak ada api. Kira-kira begitulah yang terjadi akhir-akhir ini. Aksi masa masif yang melibatkan umat beragama tidak akan terjadi kalau tak ada penyebabnya. Tak lain dan tak bukan adalah penistaan agama yang dilakukan salah satu tokoh terkenal yang kebetulan akan mengikuti pemilu untuk pemenangan dirinya kembali. Kasus yang menyebar dengan cepat dan tentu saja mengundang berbagai macam respon dari umat beragama, tokoh politik, dan lain sebagainya.

Seperti kebanyakan berita pada umumnya, bumbu-bumbu dari si penyebar berita juga ikut andil dalam membentuk opini masyarakat. Akui saja jika yang menyebar adalah orang yang sangat membenci tokoh itu, bumbu negatif pasti akan bertebaran. Berbeda jika yang menyebar adalah “pembela”, pasti akan banyak menimbulkan opini yang muncul ke arah positif. Belum lagi jika ada oknum yang melihat adanya suatu “peluang”. Pasti akan muncul lagi opini yang berbeda.

Berawal dari penistaan agama, kemudian aksi damai yang berujung bentrok, dilanjutkan dengan aksi super damai yang benar-benar aman, dan adanya isu makar. Bagaimana keadaan negeri ini? Tentu sedang bergejolak. Di mana posisi kita sebagai warga negara yang baik? Tentu mengambil sisi positifnya. Apa benar ada sisi positifnya? Ayo kita gali lagi.

Hati-hati dalam bertutur kata. Terkadang hati, mulut, dan otak memang tidak sinkron

man-person-suit-united-states-of-america

Seperti yang sudah kita tahu, aksi yang melibatkan ribuan orang ini berawal dari tutur kata yang tidak sopan dari satu orang. Tutur kata yang membawa unsur SARA. Memang ada pembelaan dari pelaku yang mengatakan bahwa maksudnya bukan seperti yang dikira kebanyakan orang. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Sudah terlanjur banyak orang yang tersulut emosinya karena omongan ini.

Mulutmu adalah harimaumu. Selalu berpikir sebelum berucap adalah kunci untuk menghindari masalah. Menjaga lisan memang susah, terutama jika hati dilanda emosi berlebih. Tapi percayalah. Menjaga lebih baik daripada mengobati. Lebih baik menjaga lisanmu daripada kamu harus mengklarifikasi semua ucapanmu yang salah. Hati boleh emosi, tapi logika harus tetap mengontrol lisan.

Lebih waspada ketika menghadapi provokasi media

Apakah media turut andil dalam menentukan opini masyarakat? Jawabannnya adalah ya. Opini masyarakat dibentuk oleh pemberitaan yang ada. Tak diragukan lagi, media sekarang berisi bumbu-bumbu yang kurang sedap.

Gambar di atas adalah satu dari sekian banyak pemberitaan yang membuat Indonesia semakin terpecah belah. Bila dilihat ada unsur “editing” di salah satu gambar. Yang pastinya ini akan menyulut kembali api yang telah padam.

Provokasi media seakan tidak ada hentinya. Berbagai opini positif dan negatif ditentukan bagaimana pemberitaan dimunculkan. Jika sebagai warga negara yang baik, kita pasti akan bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Bersikap cerdas adalah salah satu kunci. Hindari provokasi media dengan cara ini.

Mempunyai kritik terhadap pemerintah? Berikan kritik yang bersifat membangun lewat media yang tepat

marketing-man-person-communication.jpg

Ketika mendengar kata “makar”, pasti akan terdengar asing. Termasuk saya ketika pertama kali mendengarnya. Setelah ditelusuri ternyata makar adalah usaha untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Dan hukuman atas kegiatan ini termasuk sangat berat. Beberapa orang telah tertangkap akibat dugaan makar yang terkait dengan kejadian aksi damai kemarin.

Jika kamu mempunyai kritik terhadap kebijakan pemerintah, sampaikanlah dengan baik dan dengan media yang tepat. Jika memang kritikmu membangun, pasti pemerintah akan dengan senang hati menerimanya sebagai masukan yang positif. Jangan pernah berpikir untuk menggulingkan pemerintah yang sah. Selain berpotensi memberikan hukuman yang berat, belum tentu pemerintahan yang baru akan lebih baik dari pemerintahan sebelumnya. Tetap sampaikan pendapatmu, namun dengan cara yang baik dan benar.

Iklan

6 pemikiran pada “Penistaan Agama, Aksi Super Damai, dan Makar : Pelajaran Apa yang Bisa Kita Ambil?

  1. wah aktual banget nih postingannya.
    oh iya kalau kebetulan lagi cari tips fotografi mampir juga dong ke blog saya di
    gariswarnafoto[dot]com
    yuk mariii

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s